Content on this page requires a newer version of Adobe Flash Player.
MARI KITA MEMBANTU MENANAMPKAN PENDIDIKAN DAN MENINGKATKAN PENDIDIKAN DASAR DI TAPANULI.
Kalau anda berasal dari latar belakang yang cukup berpendidikan dan anda telah pernah menyempatkan diri untuk keliling daerah Tapanuli dan sekitarnya, mungkin anda bisa melihat bahwa didaerah ini persentasi penduduk yang tidak memiliki pendidikan dasar yang layak, sangat tinggi. Kita tidak perlu untuk menghadirkan statistik secara formalitas untuk melihat hal ini. Dengan melihat langsung orang-orang disana dan cara mereka menangani hidupnya, tentunya bisa dengan mudah menilainya.
Saudara-saudara kita yang tinggal di Tapanuli adalah tulang punggung daerah ini, baik dalam pembangunan dalam bidang ekonomi, pelestarian alam, pengembangan dan bimbingan sosial, pelestarian budaya dan pendidikan manusiawinya. Melihat dari situasi Tanah Batak saat ini, mungkin tulang punggung kita itu (orang-orang penghuni Tanah Batak) saat ini sedang mengidap penyakit rematik yang sangat parah, yang membuat Tapanuli tidak berdaya lagi untuk bediri tegap. Istilah kasarnya, saudara-saudara kita penduduk Tapanuli itu adalah semacam "PER" dari daerah ini, tapi karena "PER" itu sudah kendor dan karatan (orang batak bilang: Nungnga loyo jala tasikon), karena memang bertahun tahun tidak pernah dilumuri oli kehidupan, akhirnya semakin karatan dan kelihatan sangat keropos.
Cobalah kita umpamakan kita-kita orang-orang Batak yang tinggal diluar Tanah Batak itu adalah tulang rusuknya Tanah Batak. Kalau kita tulang rusuk dari Bonani Pasogit ini tidak lagi menempel dengan tulang punggung, yah...fungsi dari tulang rusuk itu juga harus dipertanyakan. Jangan biarkan tulang-tulang rusuk itu berceceran dimana-mana (diharati biang i annon). Tanpa adanya tulang rusuk, badan Tanah Batak itu ngga bisa berdiri dengan tegap, percahayalah. Jadi kalau Penduduk Tanah Batak di sana bisa "SAROHA" (seia sekata), dengan kita-kita yang marjalang (merantau), terbayang adanya kesuksesan besar di Tanah Batak kesayangan ini. Mari kita jauhkan rasa: IRI, LATE, TEAL, CEMBURU, dll. "Sir pok-pok, bagi dos asa mok-mok". (kembali keatas)
Pendidikan yang ingin kita bahas disini, bukanlah hanya pendidikan yang harus didapatkan secara formal di sekolah, tapi juga pendidikan yang bisa didapatkan diluar sekolah juga. Seperti pendidikan keagaaman di gereja atau mesjid. Pendidikan social dari pemuka adat. Pendidkan dari sumber-sumber media, seperti koran, majalah, buku-buku, video, computer, TV dan lain sebagainya. Jadi mohon tidak salah paham akan misi dari halaman pendidikan di sini.
Kalau di perhatikan secara seksama, rata-rata penduduk Tapanuli itu sudah mengecap pendikian, paling tidak pendidikan SD. Sebagai orang Batak, tentunya kita tidak bisa melupakan motto nenek moyang kita itu : "ANAKKON HI DO HAMORAON DIAHU" yang dalam bahasa Indonesianya adalah: "ANAKKU ADALAH HARTAKU", cukup terkenal dan dihayati hampir semua keturun Batak, namun terkadang karena keadaan ekonomi yang tidak memadai membuat banyak orang tua yang tidak bisa menyimak atau menanamkan makna dari motto tersebut. Memang betul, bahwa orang tua yang mampu selalu berusaha untuk menyekolahkan anaknya setinggi kemampuanya, sekalipun harus mati-matian bekerja di ladang atau disawah untuk melakukan ini. Hal ini saya saksikan sendiri dalam keluarga saya, dimana orangtua saya semasa hidupnya betul-betul kerja mati-matian untuk menyekolahkan kita anak-anaknya yang jumlahnya cukup besar (10 bersaudara - saya adalah yang bungsu). Tapi, banyak sekali anak-anak generasi muda Tapanuli yang tidak sempat mengecap pendidikan Menengah (bahkan SD pun mungkin tidak sempat lulus). Banyak yang bisa menbaca dan menulis secara dasar, tapi karena keluar dari sekolah sangat dini, tidak bisa mengembangkanya karena tidak ada sarana diluar pendidikan formal disekolah-sekolah. (kembali keatas)
Apa salahnya kalau kita-kita sebagai tulang rusuk Tanah Batak, bisa menciptakan sarana kecil-kecilan untuk memberikan kesempatan kepada mereka yang ingin belajar agar bisa mengecap pendidikan yang lebih layak. Memberikan mereka kesempatan untuk bisa membaca dengan lancar dan menulis dengan lancar juga. Bayangkan, dengan menggagalkan kunjungan makan malam di "Pizza Hut" sekali saja, kita bisa memperbaiki masa depan beberapa anak-anak miskin di Tanah Batak. Untuk mendapatkan alamat-alamat sekolah SD, SMP, SMA dan perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta di Sumatra Utara, CLIK DISINI.
Cita-Cita hidup saya sekarang adalah, keinginan untuk menciptakan beberapa perpustakaan kecil di beberapa penjuru Tapanuli (bahkan mungkin Tanah Air), dimana orang-orang yang tidak beruntung mengecap pendidikan setinggi pendidikan saya, bisa menyempatkan diri untuk latihan membaca (majalah, koran, buku-buku dan sumber-sumber lainya) dan menulis di perpustakaan tersebut. Perpustakaan ini diharapkan bisa bekerja sama dengan Sekolah setempat, gereja, mesjid, perkumpulan arisan, perkumpulan marga-marga Batak, dan badan social lainya. "it's not rocket science" Kecil-kecil dulu. Nyumbang beberap buku, bulpen, majalah, dan lain sebagainya. Sedikit-demi sedikit, lama-lama jadi bukit. kalau kita mau, pasti bisa sukses, seperti Obama bilang "YES YOU CAN".(kembali keatas)
Saat ini Project Tapanuli sedang mengembangkan project eco tani (The Eco Farm Project) dengan program-program yang bertujuan untuk memberi semangat kepada generasi penerus pertanian Tanah Batak, melalui berkebun di sekolah dan di pekarangan rumah. Mulai dari tahun 2010, kami akan menawarkan beasiswa untuk melanjutkan study dalam bidang pertanian, kehutanan dan peternakan.
Melalui Project Eco Tani & Kebun, project perpustakaan akan di-integrasikan bersamaan dengan program-program yang ada di project tersebut. Untuk mendapatkan informasi penuh tentang Project Eco Farm (Project Eco Tani & Kebun), click gambar dibawah.
Kalau anda tertarik untuk menciptakan perpustakaan kecil di Sekolah, Gereja, Mesjid, Lapo Tuak kesayangan anda, kenapa tidak memulai dari sekarang? Ayo, rame-rame kita saling berukar ide dan kesuksesan.
Seperti saya, anda juga mungkin agak enggan untuk menyumbangkan materi yang berupa uang, karena Indonesia itu terkenal dengan "tabiat korupsinya" sehingga yang ingin menyumbang sering malas atau bahkan takut untuk menyumbang. Nah, kalau sumbanganya mau selamat "JANGAN BERIKAN SUMBANGAN BERUPA UANG". Berikanlah sumbangan berupa buku, majalah, koran, atau alat-alat tulis. Jangan memberikan sumbangan kepada perorangan usahakanlah untuk menciptakan tempat belajar massa seperti perpustakaan kecil agar semua yang butuh bisa dapat menikmati secara merata.
Satu hal lagi yang mungkin bisa populer dalam mendorong anak-anak desa agar tetap belajar rajin dan semangat, memberikan penghargaan pada murid-murid teladan. Saya masih ingat waktu di SMP dulu pernah jadi juara kelas beberapa kali, dan SMPN Parongil itu sangat inisiatif menghargai kerja keras dari murid-murid yang mau bekerja keras. Murid teladan selalu diberikan hadiah, buku-buku tulis, bolpen, penggaris, rautan. Senang rasanya menerimanya, seakan-akan menerima penghargaan seumur hidup. Saya ingin kembali mengulangnya, memberikan perasaan bangga itu kepada adek-adek saya disana saat ini. Dulu saya sudah pernah melakukanya hal ini sekali waktu saya tinggal di Jakarta dulu, mengirim buku-buku tulis dan bolpen untuk para juara, yang didistribusikan oleh kepala sekolahnya saat itu. Hingga sekarang, kalau saya pulang ke kampung, masih ada yang ingat hal itu pada hal udah lebihd ari 20 tahun yang lalu. (kembali keatas)