Kerusakan alam Tapanuli terutama hutan rimba, telah memiliki dampak yang sangat negatif di pariwisata kita. Kekurangan pemeliharaan dan perawatan tempat-tempat wisata yang sudah mapan dan boleh disebut pernah menyandang nama "MANTAP" membuat Tapanuli menjadi kurang popular diantara pengunjung dunia. Hutan-hutan yang semakin lama semakin menggundul membuat daerah ini kering dan tidak sehijau jaman dulu lagi. Peningkatan erosi di daerah sekitar danau Toba misalnya, telah membuat warna air, mungkin tidak sejernih 20 tahun yang lalu, dan pohon-pohon yang tersisapun kelihatan kering dan kurang subur.
Meningkatnya produksi pacakaging (pembukusan barang) yang dibuat dari bahan plastik ditambah dengan ulah-ulah penduduk yang tidak bertanggung jawab, dimana kantong plastik dibuang sembarangan tempat, telah menambah rusaknya alam kita ini dan tempat wisata pun menjadi kelihatan penuh sampah dan kotor. Limbah yang mengandung banyak bahan-bahan plastik, sangat susah untuk membusuk (degraded), sehingga danau atau sungai, ataupun permukaan tanah yang dilimbahi dengan bahan-bahan plastik, akan kelihatan tetap kotor dan akan bertahan kotor higga ratusan tahun mendatang, kalau kita tidak beraksi dari sekarang untuk membersihkanya. Satu hal yang penting sekali adalah penduduk harus sadar untuk tidak membuang sampah sembarangan. Kita harus bisa membayangkan secara positif kalau Tanah Batak itu kelihatan bersih, turispun akan datang lagi, business pun akan maju, tenaga kerjapun bisa tercipta dan kita-kita rakyat inipun bisa makmur. Kita-kita ini, sebagai rakyat biasa, janganlah terlalu mengharapkan pemerintah untuk turun tangan menangani semuanya, bisa-bisa hal ini tidak akan terjadi di permukaan Tanah Batak ini hingga ratusan tahun dari sekarang. Kita harus berusaha untuk dapat bekerja sama dengan pemerintah setempat, bekerja sebagai "TIM" , sekalipun kita semua mungkin sangat kecewa dengan gaya pemerintahan mereka. Siapa tahu kalau kita beraksi dengan kesadaran sendiri, pemerintah kita itu akan malu sendiri akan ketidak mampuanya. (Kembali keatas)
Mengabdi dengan inisiatif sendiri harus dengan hati suci, lakukan itu untuk kemakmuran anda dan masa depan anak-anak dan cucu anda dan juga untuk kemakuran sesama penduduk lainya. Kalau anda hanya makmur sendirian, tidak seru, tidak enak. Perputaran business dan kekayaan itu lebih seru, kalau orang-orang sekitarnya juga lumayan makmurnya. Bayangkan, misalanya anda tinggal didesa kecil dan rumah anda kelihatan seperti istana. Disamping rumah anda itu anda punya toko (bilang saja dulu supermarket), tapi penduduk lainya didesa anda itu semuanya memble dan kanker (kantong kering), siapa yang mampu belanja ke supermarket anda? Tapi bayangkan kalau disebuah desa semuanya lumaya makmur. Ada yang sukses bertani, ada yang sukses menenun ulos, ada yang sukses membuka restaurant lapo tuak, ada yang sukses mengukir kecapi, ada yang sukses buka toko, dlsb. Jadi semuanya punya kegiatan usaha, semuanya sukses. Membayangkanya juga enak sekali, "Huta Laguboti" misalya, sukses dalam segala bidang. Amin!!!!!!
Pemerintah juga semestinya harus berusaha untuk memberikan pengarahan dan bimbingan kepada rakyat. Sering sekali kekurangan-kurangan negara ini ditimpakan ke pundak rakyat. Rakyat sering di cela akan kurangnya kesadaran mereka untuk menanggulangi sampah atau hal-hal lainya. Kalau diamati, apakah sebenarnya pemerintah kita itu telah meberikan penyuluhan dan pendidikan semaksimal mungkin kepada rakyat agar rakyat kita tidak buang sampah sembarangan? Apakah pemerintah telah memberikan sarana (tempat) untuk membuang sampah yang layak? Apakah pemerintah telah menyediakan transportasi untuk pengangkutan sampah-sampah dari rumah penduduk ke lokasi-lokasi yang tersedia. Saya masih ingat waktu saya tinggal di Jakarta. Ibu saya harus membangun tempat sampah sendiri di depan rumah (terbuat dari bak semen). Sekali dalam 2 hari, tukang sampah akan mengosongkan tempat sampah tersebut, tapi ibu saya harus membayar uang sampah bulanan. Dikampung, duit dari mana untuk bayar tukang sampah? (Kembali keatas)
Yah, tapi report memang kalau sudah tinggal di negara maju seperti Inggris ini, kadang-kadang kita sering membandingkan pelayanan permerintah di Inggris ini dengan pelayanan pemerintah di Tanah air, bisa sekarat kekecewaan hati ini. Kalau orang Medan bilang "Matilah kau semut, jangan pula kau bandingkan harimau dengan kucinglah"
Marilah saudar-saudara, kita bekerja sama, demi masa depan generasi penerus, anak-anak kita. Mari kita bangun Tanah Batak ini dengan kesadaran sendiri, tanpa pamrih. Mari kita buka kembali pintu wisata Tapanuli ke seluruh dunia. Saya sangat yakin, bersama kita bisa mencapai kesuksesan "Sedikit demi sedikit lama-lama jadi bukit". Horas jala gabe ma dihita sude Bangso Batak.
Saat ini dunia sedang meyorot Indonesia dalam ketidak bertanggung jawabanya negara kita ini dalam menanggulangi "Global Warming". Menurut Statistik Indonesia adalah negara dengan rangking nomor 3 didunia, sebagai "CARBON EMITTER". Maksudanya "Carbon Emitter" adalah "Oknum-oknum yang beraksi memproduksi CO2".
Buat anda yang belum paham sekali apa itu Carbon Emitter, dan apa itu "Global Warming", tontonlah video ini, agar lebih paham. Kalau tidak begitu mengerti, lihatlah informasi penjalasan Carbon > CO2 DISINI. (Kembali keatas)
Terjemahan ilmiahnya adalah:
Carbon =adalah salah satu bahan kimia dengan simbol C yang sangat banyak terkandung di muka bumi kita ini. Emitter = adalah oknum-oknum yang membakarnya dan menjadikannya menjadi gas CO2, yang saat ini sebagai biang keladi perusak alam kita ini.
Negeri kita tercinta ini sangat subur, banyak sekali mengandung Carbon (dalam video diatas: kita disebut gudang Carbon). Carbon ini penting sekali dalam kehipan kita sehari-hari, kita tidak bisa hidup tanpa Carbon karena udara yang kita hirup setiap kita menghebuskan napas, mengandung Carbon. Untuk lebih jelas apa itu Karbon dan C02, klik disini.
(Kembali keatas)
Simaklah video ini, agar bisa lebih tahu megahnya dan agungnya Bumi kita ini, betapa beruntungnya kita diberikan tempat hidup yang semewah ini oleh Allah yang Maha Penyayang. Marilah kita lestarikan, janganlah kita rusak, demi anak-anak dan cicit kita dan juga demi masa depan anak dan cicit mereka.
Sebagai orang yang beragama dan percaya kepada Maha Pencipata "Allah", kita harus bisa sadar bahwa bumi ini deberikan kepada kita hanya istilah "kontrak", hanya numpang tinggal sementara, hingga waktunya kita menghadap nanti, menghadap dengan membawa sertifikat dari perbuatan kita selam tingga di dunia ini. Mengontrak udah tidak bayar, kok bisanya hanya merusak. Hargailah karunia Allah ini, biar Pencipta juga mau menyayangi kita tanpa pandang bulu. (Kembali keatas)
Carbon is a very important element, as it makes up organic matter, which is a part of all life. Carbon follows a certain route on earth, called the carbon cycle. Through following the carbon cycle we can also study energy flows on earth, because most of the chemical energy needed for life is stored in organic compounds as bonds between carbon atoms and other atoms. The carbon cycle naturally consists of two parts, the terrestrial and the aquatic carbon cycle. The aquatic carbon cycle is concerned with the movements of carbon through marine ecosystems and the terrestrial carbon cycle is concerned with the movement of carbon through terrestrial ecosystems.
The carbon cycle is based on carbon dioxide (CO2), which can be found in air in the gaseous form, and in water in dissolved form. Terrestrial plants use atmospheric carbon dioxide from the atmosphere, to generate oxygen that sustains animal life. Aquatic plants also generate oxygen, but they use carbon dioxide from water.
The process of oxygen generation is called photosynthesis. During photosynthesis, plants and other producers transfer carbon dioxide and water into complex carbohydrates, such as glucose, under the influence of sunlight. Only plants and some bacteria have the ability to conduct this process, because they possess chlorophyll; a pigment molecule in leaves that they can capture solar energy with. (Online ref: http://www.lenntech.com/carbon-cycle.htm, accessed 16 Feb 09).
Terjemahan dokumen diatas dalam Bahasa Indonesianya (diterjemahkan oleh Nelly Br-Torus, Andon).
Karbon adalah unsur kimia yang sangat penting, karena bahan kimia inilah yang membuat/mencipatakan adanya bahan-bahan organis sebagai bagian dari kehidupan kita. Karbon menelusuri beberapa arah/perputaran dalam bumi kita ini, yang disebut "carbon cycle" (perputaran carbon). Dengan mengikuti perputaran Karbon, kita bisa mempelajari arus/aliran energi (panas) di muka bumi ini, karena hampir semua energi kimia yang kita butuhkan dalam hidup ini tersimpan dalam bahan-bahan organis terikat/tertaut didalam atom karbon dann juga dalam atom-atom lainya.
Secara alami, perputaran karbon ini terdiri dari 2 unsur, unsur terrestial (unsur yang berkenaan dengan bumi) dan unsur aquatic (semua yang mencakup kehidupan dalam air). Perputaran karbon yang dalam unsur equatic berkaitan dengan perputaran karbon melalui ekosistem yang meliputi wilayah laut, dan unsur perputaran karbon dalam bidang "Terrestrial" berkaitan dengan wilayah bumi kitaini, jadi wilayah diluar perairan. (Kembali keatas)
Perputaran karbon terjadi berdasarkan adanya Carbon Dioxide (CO2), dimana unsur kimia ini bisa temukan dalam bentuk gas, dan juga ditemukan dalam air. Tanaman terrrestrial (tanaman yang tumbuh di permukaan bumi ini) menggunakan Carbon Dioxide (CO2) dari atmosfir untuk membangkitakan/mendistrubusikan oxygen yang mendukung dan melestarikan kehidupan binatang, termasuk mamal, dalam hal ini termasuk manusia. Tanaman laut juga mempunyai fungsi dan perputaran yang sama, akan tetapi menggunakan carbon yang terdapat dalam air tersebut untuk mendistrubutikan oxygen.
Proses pendistribusian oxygen ini disebut photosynthesis (fotosintesis). Pada saat-saat proses fotosintesis, tanaman dan bahan-bahan lain yang memproduksi CO2 (carbon dioxide), mengalihkan (menjadikan) CO2 dan air menjadi karbohidrat yang sangat komplex, contohnya karbohidrat gula - dimana terjadinya gula dalam fotosintesis, diproduksi dengan adanya perngaruh sinar matahari. Hanya tanaman dan beberapa bakterilah yang mampu melakukan fotosintesis tersebut, karena tanaman dan bakteri memiliki chlorophyll. Chlorophyll adalah molekul zat warna yang dimiliki daun-daun yang mampu menyerap energy matahari.
Silahkan simak link berikut sebagai referensi, yang dikeluarkan oleh ahli pengamat Global Warming dari berbagai penjuru dunia, untuk sebagai bahan bacaan tambahan.